TIP SUKSES UNTUK ORANG TUA
OLEH : SHINTA RIAN SARI, SE. (0857 1991 0121) PKBM TANDA GENAP

TIP 1

Latih dan Bentuk Diri Anda untuk

Menjadi Orang Tua berhasil

Banyak orang tua masih berpendapat jika kebijaksanaan dalam mendidik anak otomatis akan muncul seiring bertambahnya usia. Mereka akan mengetahui secara sadar dan rasional hal yang dibutuhkan anaknya. Sampai batas tertentu, hal ini mungkinada benarnya, tetapi tentunya perlu dikaji ulang mengingat zaman berkembang secara pesat dan tantangan di dalam membesarkan anak pun menjadi semakin kompleks.

Sebagai orang tua, kita semua pernah dibesarkan sebagai anak. Karena itu, kebanyakan dari kita, para orang tua, tanpa sadar sering mengulangi pola didikan orang tua yang pernah kita alami di dalam membesarkan anak kita. Hal ini karena bagaimana cara orang tua kita membesarkan kita di masa kecil terekam erat di dalam pikiran alam bawah sadar . Mungkin untuk membuktikan, coba perhatikan hal-hal yang membuatkan kita kesal pada anak dan cara kita memarahi anak. Kemudian, bandingkan dengan apa yang dilakukan orang tua kita kepada kita. Apakah ada kesamaan?

Walaupun kita telah menerima banyak pengetahuan dasar yang berguna dari orang tua kita di dalam membesarkan anak, paling tidak ada dua alas an penting kenapa kita harus dengan sadar belajar (men-coach diri) agar dapat menjadi orang tua yang lebih sukses. Pertama, lingkungan dan zaman yang dihadapi anak sekarang sudah jauh berubah disbanding apa yang kita hadapi dulu. Sudah banyak cara-cara terkini untuk memupuk potensi anak agar tumbuh lebih komplit dan seimbang. Ilmu parenting sudah berkembang pesat, mengikuti perkembangan zaman. Di samping itu, bagi kebanyakan kita, kemampuan ekonomi mungkin sudah jauh lebih baik dari orang tua kita. Dengan demikian, kapasitas kita dan anak di dalam menyerap kemajuan juga sudah jauh lebih baik.

Kalau di dalam pekerjaan kita sering mendapat training dan coaching agar karir kita berkembang lebih pesat, kita juga perlu melakukan hal yang sama di dalam mengasuh anak (parenting). Dengan mengikuti coaching, pelatihan parenting, dan terus belajar, kita bias mengevaluasi dan menerima feedback keefektifan car-cara mendidik anak yang kita terapkan.

Dengan meng-coach diri kita maka kita bisa segera mengetahui kekurangan dalam cara kita mendidik anak yang mungkin berlangsung tanpa kita sadari. Selain itu, coaching sangat berguna untuk membangun kebiasaan baru yang lebih efektif dan me-reprogramming hal yang selama ini telah kita terapkan dalam mendidik anak.

 

TIP 2

Gaya pengasuhan Orang Tua

Menentukan Keberhasilan Anak

 

Ada banyak gaya mengasuh anak. Sumber Pembelajaran untuk membesarkan anak pun bermacam-macam. Sebagian orang tua membesarkan dengan melanjutkan tradisi pengasuhan orang tua mereka. Ada juga orang tua yang memilih mendengarkan nasihat teman-teman. Dengan kemajuan ilmu di bidang parenting yang semakin pesat, sekarang semakin banyak orang tua mendapatkan informasi dengan rajin membaca buku-buku parenting dan mengikuti seminar.

Tentunya tidak ada satu cara pun yang mutlak benar. Namun penelitian selama lebih dari 40 tahun telah mengerucut pada beberapa cara praktik pengasuhan anak yang paling efektif dan kemungkinan besar menghasilkan anak-anak yang positif dan berhasil. Salah satu penelitian yang berpengaruh luas dilakukan oleh Dr. Baumrind, University of California, Berkeley. Penelitian tersebut bertujuan mencari strategi parenting yang paling memungkinkan untuk membentuk anak yang mandiri, cakap, dan penuh kasih saying. Hasil penelitian tersebut menunjukan ada empat gaya parenting yang ditentukan dua elemen penting, yaitu dukungan dan ekspektasi. Dukungan bisa dilihat dari derajat support dan kehangatan yang diberikan orang tua pada saat anaknya bertumbuh. Sementara ekspektasi biasanya muncul dalam bentuk control, monitoring, dan disiplin.

Bedasarkan dukungan dan ekspektasi kepada anak, gaya pengasuhan orang tua digolongkan menjadi empat, yaitu otoriter, cuek, permisif, dan demokratis. Kedua elemen tersebut , dukungan dan ekspektasi, merupakan faktor penting dalam pengasuhan anak. Namun, perlu dicatat bahwa hal yang lebih penting lagi dalam menentukan keberhasilan anak adalah INTERAKSI antar kedua elemen tersebut. Bagus bagi perkembangan anak yang sehat, tapi akan menjadi bagus lagi jika dibarengi dengan disiplin yang sesuai.

Bagaimana gaya parenting Anda?

1)            Otoriter

Orang tua yang mempunyai gaya otoriter cenderung member dukungan rendah, tetapi mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap anak. Orang tua seperti ini selalu berusaha mengontrol dan memaksakan kehendak pada anak. Mereka memilih disiplin yang kaku dan biasanya dilakukan tanpa ekspresi kehangatan dan kasih sayang. Standar perilaku pada orang tua yang otoriter biasanya kaku dan cenderung mengkritik anak jika tidak patuh. Mereka juga kerap mendikte anak hal yang harus dilakukan, memaksa anak untuk patuh, dan tidak memberikan pilihan pada anak.

Orang tua otoriter biasanya tidak menerangkan pada anak alasan di balik permintaan mereka. Jika anak mempertanyakan perintah orang tua, merka akan menjawab: “jalankan saja, tidak usah banyak tanya, atau kamu mau dihukum?”.

Orang tua seperti ini cenderung memfokuskan pada kesalahan anak atau perilaku yang tidak disetujui orang tua, bukan pada perilaku anak yang positif. Anak dikritik, dimaki, atau dihukum; seringkali dengan cara kasar jika anaknya tidak menurut pada aturan yang dibuatnya. Anak dari keluarga otoriter biasanya tidak belajar untuk berpikir mandiri dan berusaha memahami mengapa orang tua menuntuk perilaku tertentu.

 

2)            Permisif

Orang tua yang memiliki gaya permisif cenderung member dukungan tinggi, tetapi mempunyai ekspektasi yang rendah terhadap anak. Orang tua permisif menyerahkan control sepenuhnya kepada anak . Sangat sedikit, atau hampir tidak ada, aturan yang diterapkan di rumah. Kalau pun mereka menetapkan aturan, biasanya tidak diterapkan secara konsisten. Mereka tidak suka diikat dengan rutinitas. Bahkan, mereka cenderung menginginkan anak untuk merasa bebas. Orang tua tidak menciptakan batasan, disiplin, atau tuntutan bagi perilaku anak. Mereka cenderung menerima anak apa adanya dan tetap hangat pada anak yang nakal sekalipun.

Orang tua permisif memberikan pilihan sebanyak mungkin pada anak, bahkan ketika anak jelas-jelas tidak mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab. Mereka menerima saja perilaku baik atau buruk dan tidak berkomentar apakah perilaku tersebut berguna atau tidak. Mungkin, mereka merasa tidak mampu untuk mengubah perilaku anak atau mereka memilih terlibat dan menghindari pertentangan. Alasan lain yang paling sering ditemui adalah karena kesibukan orang tua membuat mereka memilih untuk lebih banyak menyenangkan anak dengan cara tidak membangun.

Hasil negatif dar orang tua permisif adalah anak yang minder, anak yang pintar memanipulasi orang tua, dan anak yang tidak punya dsiplin. Anak yang dibesarkan dengan pola tersebut juga cenderung kurang bertanggung jawab, agresif, menuruti impuls seksual, egois, dan menuntut.

 

3)           Cuek

Orang tua yang memiliki gaya cuek cenderung member dukungan minimum dan juga mempunyai ekspektasi yang rendah terhadap anak. Orang tua dengan tipe ini cenderung mengabaikan perasaan anak. Mereka menginginkan emosi negatif anak untuk segera berakhir. Biasanya, mereka mengalihkan perhatian anak untuk menghentikan emosi anak. Mereka tidak berusaha menyelesaikan masalah pada anak dan percaya saja bahwa masalah yang datang akan pergi dengan sendirinya. Orang tua cuek lebih mengkuatirkan cara mengakhiri emosi daripada memahami emosi tersebut. Mereka cenderung mengecilkan masalah dan mengabaikan sehingga bisa dilupakan.

Efek dari gaya pengasuhan cuek akan menghasilkan anak dengan perasaan yang selalu salah, tidak tepat, dan anak merasa dirinya tidak penting. Anak percaya bahwa ketidakberhasilan mereka sudah salah dari sononya atau karena salah desain. Mereka kesulitan dalam mengatur emosinya. Anak-anak tersebut belajar untuk mengabaikan perasaannya dan tidak belajar untuk mengenali dan mengatasi emosinya.

4)            Demokratis

Orang tua yang memilki gaya demokratis memberi dukungan tinggi dan mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap anak. Selain itu, orang tua demokratis mampu memadukan ekspektasi dan dukungan denag serasi. Ekspektasi orang tua yang tinggi terhadap anak dibarengi dengan dukungan yang tinggi pula untuk memastikan pencapaian tujuan. Mereka membantu anak untuk belajar bertanggung jawab dan memikirkan konsekuensi dari perbuatannya. Orang tua melakukannya denagn cara menerangkan ekspektasi mereka dengan jelas dan sesuai dengan usia perkembangan anak. Mereka juga mengambil waktu untuk menerangkan alasan tuntutan mereka. Lebih penting lagi, orang tua demokratis akan memonitor perilaku anak untuk memastikan bahwa anak mengikuti aturan dan harapan orang tuanya.

Orang tua melakukan seperti itu tidak dengan kekerasan, namun dengan penuh kehangatan dan kasih saying. Mereka seringkali “menangkap perilaku positif anak” dan mendorong perilaku yang baik, bukan memfokuskan pada perilaku yang buruk. Misalnya, orang tua meminta anak untuk mengembalikan mainan ke tempat semula karena “supaya orang lain tidak tersandung dan agar mainan tidak rusak terinjak”.

Orang tua demokratis juga memberi pilihan pada anak. Misalnya, “Mau mandi atau mengerjakan PR dulu?”Hal semacam ini akan melatih anak untuk tanggung jawab sesuai usia anak, mulai dari tanggung jawab pribadi, seperti mandi sendiri, sampai tugas membantu keluarga. Dalam hal ini, orang tua demokratis membimbing perilaku anak dengan mengajar, bukan dengan hukuman. Orang tua demoratis juga tegas, disiplin, dan konsisten dalam mentaati aturan yang mereka terapkan.

Gaya pengasuhan mana yangAnda terapkan selama in?. Mungkin Anda berada ditengah-tengah. Pikirkan apa yang Anda harapkan untuk dipelajari anak Anda?

Penelitian menunjukan bahwa hasil yang paling positif bagi anak muncul ketika orang tua menerapkan gaya demokratis. Anak yang diasuh oleh orang tua permisif cenderung menjadi agresif, sedangkan orang tua otoriter cenderung penurut dan memiliki harga diri rendah. Sementara anak orang tua cuek memiliki prestasi rendah dan minder.

TIP 3

Memberikan Kasih Sayang,

Berbeda dengan Memanjakan

 

Salah satu pertanyaan yang sering muncul terkait dengan cara memberi kasih sayang terhadap anak adalah, “apakah jika terlalu menyayangi anak tidak akan berdampak buruk bagi anak, misalnya anak menjadi manja, bahkan anak cenderung mengontrol orang tuanya?”.

Memang benar bahwa sangat banyak kasus anak manja yang susah diatur, bahkan suka mengatur, menuntut, dan keras kepala. Naun, apakah benar bahwa hal tersebut merupakan dampak dar terlalu banyak kasih saying? Jawabannya tidak. Yang lebih penting mungkin, anak tersebut terlalu di manja.

Menyayangi berbeda dengan memanjakan. Dalam konteks memanjakan, banyak hal yang diberikan orang tua sebenarnya adalah”pengganti”kasih sayang. “Pengganti” kasih sayang tersebut dapat berupa hal-hal berikut.

-Pemberian materi yang berlebihan

-Kelonggaran atau kompromi. Dengan kata lain, orang tua tidak menciptakan dan menerapkan aturan di rumah.

-Ekspektasi orang tua yang rendah terhadap anak.

                Anak-anak yang dimanja bukannya tumbuh dewasa. Justru, anak akan menjadi tidak mandiri jika orang tua sering mengambil jalan pintas dengan memberikan “pengganti” kasih sayang.

                Kasih sayang itu sendiri lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan anak dan upaya untuk mendewasakan dan menumbuhkan kemandirian anak.

TIP 4

Kebiasaan Memarahi Anak berdampak Negatif

Terhadap Perkembangan Otak

 

          “Kamu jangan rebut!!! Diammmm!!!” Seru seorang ibu pada anaknya sambil mendorong pipi anaknya dengan kasar. Seketika itu juga, si anak menangis dengan kerasnya.

Banyak orang tua yang memarahi anaknya dengan emosional. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan tersebut berdampak negatif bagi perkembangan otak anak karena kemarahan menjadi salah satu penyebab tercipta lingkungan toksik di dalam keluarga. Padahal, lingkungan toksik yang diakibatkan oleh stress, konflik keluarga, bahkan kemarahan orang tua dapat membunuh sel-sel otak dengan memacu produksi hormone stress (kortisol) pada otak anak.

Kortisol dapat mengakibatkan kematian sel saraf otak sehingga menurunkan jumlah sambungan antarsel saraf di otak, yang kemudian berakibat menurunkan kemampuan belajar anak.

Selain itu, anak dari orang tua yang pemarah cenderung memiliki sifat sebagai berikut.

-Lebih agresif dan tidak menurut

-Kurang menunjukan Empati

-Sulit beradaptasi

-Membandel

-Mengalami kesulitan sampai masa dewasa, termasuk depresi, dikucilkan, menyiksa pasangan, serta prestasi karir dan finansial rendah.

Karena itu, Orang tua harus mencari untuk mengatur kemarahannya, termasuk mencari pertolongan ahli bila perlu. Biasanya, alasan utama kemarahan orang tua terhadap anak adalah karena si anak tidak menuruti tuntutan dan kemauan orang tua. Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk memahami apa tuntutan atau kemauan sudah sesuai dengan tahap perkembangan anak. Selain itu, mempelajari kepribadian anak juga akan mempermudah orang tua memahami reaksi anak terhadap perkataan atau permintaan orang tua.

Belajar mengatasi kemarahan dengan cara yang sehat akan membawa hasil yang signifikan dalam keluarga. Orang tua akan lebih kalem dalam berinteraksi dengan anak . hal ini sangat membantu anak dalam perkembangan emosinya. Selain itu, orang tua pun bisa jadi contoh yang baik dalam mengatasi kemarahan. Dengan demikian, siklus budaya marah dalam keluarga bisa di putus dan tidak perlu berlanjut ke generasi berikutnya.

TIP 5

Tak Ada Kata Terlambat

Untuk Menjadi Orang Tua Penyabar

 

Kesabaran adalah landasan utama bagi keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak. Kesabaran adalah cara yang paling efektif dalam mengasuh anak dan paling nyaman di rasakan anak. Namun, di zaman yang serba sibuk dan penuh stress ini, kesabaran semakin sulit didapatkan. Karena itu, kebanyakan kita tidak lagi menjadi orang tua yang penyabar. Saat ini, kesabaran adalah skill yang semakin sulit untuk dikuasai. Namun, sama halnya dengan kebiasaan baik lainnya, jika terus-menerus dilatih maka kita akan lebih terampil lagi untuk bersabar.

Berikut ini beberapa tip favorit yang bisa dicoba untuk melatih kesabaran.

-Tarik nafas panjang. Begitu Anda mulai merasa tidak nyaman, Tarik nafas panjang 3 kali. Buang amarah Anda bersama nafas yang anda hembuskan.

-Menghitung sampai 10. Tip ini sangat sederhana, tetapi sangat manjur . Amati emosi Anda.Ketika Anda mulai merasa frustasi atau marah, STOP! Hitung perlahan dari 1 sampai 10

-Break time. Pisahkan sejenak diri Anda dari anak. Anda bisa meninggalkan ruangan selama 5 menit untuk memikirkan konflik yang terjadi dan memikirkan jalan keluarnya. Jika anda membutuhkan Waktu yang lebih banyak, izinkan anak menonton TV atau Video selama setengah jam. Gunakan waktu tersebut untuk mengembalikan energi Anda dan mendinginkan pikiran.

-Pikirkan kebutuhan anak. Seringkali kita tidak sabar karena kita lupa bahwa anak masih kecil dan perlu bantuan untuk menjalankan tugasnya. Pastikan bahwa ekspektasi Anda sesuai denagn usia dan kemampuan anak.

-Tertawa. Anda hanya perlu mengingatkan diri Anda untuk tertawa terbahak-bahak

-Teaching moment. Pikirkan, apa yang hendak Anda ajarkan atau tularkan kepada anak? Apa yang penting saat ini?

-Kesempatan. Bagaimana Anda bisa menggunakan kesempatan ’konflik’ untuk mengajarkan sesuatu pada anak Anda? Apakah Anda ingin mengajarkan bahwa kesalahan adalah hal yang lumrah? Atau Anda memberikan anak kebebasan untuk mengekspresikan emosinya?

-Bayangkan ada penonton. Bayangkan Anda mempunyai audiens yang mengamati interaksi Anda bersama anak Anda. Bagaimana sikap Anda di hadapan para audien? Apakah Anda akan tetap menunjukan reaksi keras Anda atau sebaliknya?

-Idola. Carilah seorang idola yang memiliki kesabaran luar biasa yang Anda idam-idamkan. Tanyakan pada diri Anda, bagaimana kira-kira ibu ’T’ meng-handel situasi seperti ini?

-Catat. Anda bisa menggunakan HP atau buku harian untuk mencatat kemarahan Anda. Hal ini sangat menolong Anda untuk mengevaluasi pola kemarahan.Selanjutnya, Anda bisa memikirkan Solusinya.

-Visualisasi. Melalui evaluasi catatan kemarahan Anda, Anda membuat solusi agar masalah yang sama tidak terulang lagi. Selanjutnya Anda akan Berlatih membayangkan ‘skenario konflik’ di benak Anda. Cobalah beberapa scenario solusi. Ketika Konflik nyata terjadi, Anda akan lebih siap dalam bereaksi.

TIP 6

Belajarlah dari Keberhasilan Atlet untuk Menjadi

Orang Tua sukses

 

          Anda tahu rahasia sukses dari Michael Jordan? Pertama, jelas karena dia memiliki passion terhadap olahraga bola basket. Kedua, dia berlatih keras. Dia sudah membiasakan diri untuk berlatih basket selama berjam-jam hampir setiap harisejak kecil. Ketiga, dia mau belajar dari orang lain dan di-coach orang yang memiliki kepakaran. Apa jadinya jika sang bintang tidak mau mengikuti arahan Phil Jackson ketika masih bermain di Chicago Bulls? Bisa jadi dia tidak menjadi bintang, melainkan batu sandungan bagi timnya.

Tentu hal ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi kita yang ingin meraih prestasi dalam bidang olahraga. Prinsip diatas juga bisa diterapkan dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Agar menjadi orang tua yang sukses, kita harus memilki passion terhadap peran kita sebagai orang tua. Menjadi orang tua adlah kebanggaan terbesar dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mampu memberikan yang terbaik bagi anak kita jika si kecil merupakan prioritas kesekian setelah pekerjaan atau kegiatan sosial kita.

Orang tua juga perlu berlatih secara konsisten untuk menjadi orang tua yang lebih baik, berlatih untuk memahami anak, berlatih untuk bersabar menghadapi anak-anak yang sedang aktif-aktifnya, dan berlatih untuk mengasihi anak tanpa syarat.

Selain Berlatih, orang tua juga perlu meng-coach dirinya. Seperti atlet kita juga perlu bantuan coach atau ahli untuk mempertajam kelebihan yang sudah kita miliki. Coach juga berperan untuk melihat kelemahan-kelemahan yang kemungkinan kita tidak sadari, tapi berdampak negatif pada perkembangan anak. Selain itu, Interaksi dengan coach akan memperluas wawasan kita sebagai orang tua. Karena dengan perkembangan zaman yang sangat pesat, pendidikan anak juga semakin kompleks. Untuk menguasai metode terkini dalam berkomunikasi dengan anak saja, mungkin memerlukan beberapa sesi latihan khusus bersama coach.

Oleh sebab itu, idealnya para orang tua harus mau dan selalu bergairah untuk meng- coach dirinya agar bisa memberikan yang terbaik bagi anaknya. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca buku tentang pendidikan anak, berkonsultasi dengan coach dan para ahli, serta mengikuti seminar atau workshop mengenai parenting.

TIP 7

Coba Terapkan Hukum 10 Ribu Jam

Dalam Mengembangkan Potensi Anak

          Apa persamaan yang dimiliki para caliber kelas dunia, baik pemain music, pencipta lagu, penulis, pelukis, atau pemain sepak bola? Hukum 10 Ribu Jam.

                Angka ajaib 10 ribu jam adalah rata-rata waktu yang dihabiskan untuk berlatih dalam berlatih dalam pencapaian kelas dunia. Banyak buku yang mempopulerkan Hukum 10 Ribu Jam. Namun, istilah itu pertama kali dikemukakan oleh Anders Ericcson, seorang psikolog yang meneliti keberhasilan para pemain biola di Berlin Academy of Music.

Dia menemukan bahwa para pemain biola yang penampilannya terbaik berlatih paling banyak dibanding kelompok terbaik kedua. Demikian juga kelompok kedua, berlatih lebih banyak daripada kelompok terendah.

                Mozart, diperkirakan, pada usianya yang ke-6 tahun telah berlatih musik selama 3500 jam dibawah bimbingan ayah kandungnya. Demikian pula pecatur Prodigy Bobby Fischer, berlatih keras selama 9 tahun sebelum meraih level grand master pada usia 17 tahun. Hasil yang sama juga ditemukan pada atlet, ilmuan,dan dokter.

                Sepuluh ribu jam sama dengan berlatih 3 jam sehari selama 10 tahun. Kelihatannya ini waktu yang cukup lama Tetapi, kalau disiplin sudah terbentuk, tidak terasa waktu akan berlalu dengan cepat. Selain itu, langkah pertama sangat penting adalah menemukan bidang yang anak sukai.

Hukum 10 Ribu Jam menunjukan bahwa usaha anak memiliki andil yang lebih besar untuk mewujudkan cita-cita, bahkan bisa melebihi andil daripada bakat. Pemahaman ini terbukti mendorong motivasi dan memicu ketekunan.

Perlu dicatat bahwa berlatih yang dimaksud adalah bukan sembarang latihan. Ericcson menemukan bahwa para pemain yang mencapai caliber dunia melakukan latihan terprogram yang disebut deliberate practice.

Setelah menyadari bahwa bakat bukanlah segalanya, kita bisa mendorong anak untuk lebih tekun dan kreatif dalam mengembangkan kealian. Banyak contoh di sekitar kita yang menunjukan hasil kerja keras. Michael Jordan pada awalnya tidak diterima di tim basket sekolah, namun akhirnya menjadi salah satu pemain basket legendaries dunia. Demikian juga Lionel Messi yang sebelumnya dianggap terlalu kecil untuk menjadi pemain bola, sekarang menjadi pemain terbaik dunia denagn ketekunan berlatih.

TIP 8

Orang Tua Memerlukan Quiet Time Secara Teratur

Kesibukan menjadi orang tua, terutama yang memiliki anak kecil, sangat mudah membuat kita lupa untuk berhenti. Hidup kita penuh dengan aktivitas, mulai dari bangun sampai malam hari, sering menyita perhatian dan energi sehingga kita mengabaikan diri sendiri. Untuk menyegarkan diri dan memahami diri dengan lebih baik, kita perlu menyempatkan diri untuk sekadar berdiam menyelami jiwa kita.

Banyak orang yang merasa tidak nyaman untuk berdiam diri karena berdiam diri, muncullah suara-suara dari pikiran yang mengkritik, menyalahkan, dan mempertanyakan keputusan yang kita ambil. Terkadang, suara yang muncul mengingatkan kita akan hasrat terdalam, mimpi yang terlupakan, atau rahasia masa lalu.

Kesibukan hidup sudah cukup membuat kita kelelahan, suara-suara dari dalam pikiran membuat kita lebih kewalahan lagi. Namun, hanya dengan berdiam dirilah kita bisa mengenal dan merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Kenyamanan menjadi diri sendiri adalah satu komponen penting untuk memampukan kita menjalankan peran sebagai orang tua. Berdiam diri juga menyediakan kesempatan untuk mengevaluasi secara jernih keputusan-keputusan yang baru kita ambil. Kesegaran yang didapatkan setelah melewati quiet time akan membuat kita lebih efektif.

Karena itu, nikmatilah quiet time dan menjadi diri Anda sendiri. Tetapkan beberapa menit setiap hari untuk duduk bersama diri sendiri. Jauhkan TV, buku, atau Blackberry. Bukalah pintu hati Anda untuk diri sendiri.

 

Shinta Rian Sari, SE.

Konsultan Pendidikan

Mobile : 0857 1991 0121